Kitabisa! - Selamatkan Anak-Anak Suku Asmat Dari Gizi Buruk

Selamatkan Anak-Anak Suku Asmat Dari Gizi Buruk

Selamatkan Anak-Anak Suku Asmat Dari Gizi Buruk
Kurang dari 5 bulan, 63 anak dan balita suku Asmat meninggal akibat wabah campak dan krisis gizi buruk yang melanda tanah Papua.

Rp 667.187.283

terkumpul dari Rp 750.000.000
89% tercapai
Campaign Telah Berakhir

0 SHARES



Penggalangan dana dimulai 22 Jan 2018 oleh:

Baca update terbaru dari penggalangan dana ini!

Kurang dari 5 bulan, 63 anak dan balita suku Asmat meninggal akibat wabah campak dan krisis gizi buruk yang melanda tanah Papua.

31fa62835271a72fe9a54b455d0a7ec9add76c27.jpeg(Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2018/01/15/2108208...)

“Hingga Januari, hampir 400 anak menjalani perawatan medis di RSUD Asmat. 175 anak mendapat penanganan khusus akibat kondisi yang sangat mengkhawatirkan.”-Ade Fadz, Relawan ACT.

83e59d68a66da000d363e91fdd1cc3997b9643e4.jpeg

Jumlah ini diperkirakan terus bertambah mengingat wabah terjadi di 224 kampung, kabupaten Asmat dan belum semua daerah terjangkau oleh tim medis RSUD Asmat.

Tersebarnya pemukiman warga serta kondisi geografis berupa rawa menjadi kendala. Akses menuju pemukiman warga hanya bisa ditempuh menggunakan perahu selama 2-3 jam perjalanan.

Wabah campak disertai gizi buruk telah terjadi sejak September lalu dan mayoritas penderitanya adalah balita dan anak-anak di Kabupaten Asmat.

Kemiskinan yang terjadi menyebabkan anak-anak kekurangan gizi. Tak bisa dibayangkan ratusan bahkan ribuan anak tumbuh tanpa asupan gizi yang cukup.

9b5a9c7da055151b11ba7f0ead5e60f404833770.jpeg

Belum lagi lingkungan tempat tinggal mereka yang kotor dan gaya hidup yang kurang bersih. Menjadi pemicu utama penyebaran wabah campak.

Pemerintah setempat sudah membuat tim medis untuk menyelamatkan nyawa anak-anak di Papua. Bantuan berupa pengobatan dan imunisasi serta pemberian vitamin A untuk mencegah penyebaran campak.

Namun, belum semua wilayah terjangkau mengingat medan menuju lokasi sangatlah sulit dan memakan waktu yang cukup lama.

Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) berinisiatif menggalang dana untuk mengirimkan bantuan gizi untuk balita dan anak-anak penderita campak di Papua.

913d42df46bdc66648aeddc963f7e34f55363f7b.jpeg

Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memberi bantuan pangan sarat gizi dan kesehatan untuk memulihkan kondisi penderita campak dan gizi buruk, yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Mari bantu selamatkan adik-adik kita di Papua dari ancaman krisis gizi buruk dan wabah campak yag sewaktu-waktu dapat merenggut nyawa mereka.

CARA BERDONASI
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Transfer via rek Mandiri/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI & Credit card
3. Dapatkan laporan via email

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman penggalangan ini adalah milik penggalang dana dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Donatur 3502

SHOW MORE
  • Rp. 4.740.000
    Donasi Offline via ACT
  • Rp. 100.955
    Anonim

    Semoga bermanfaat

  • Rp. 109.300
    Anonim

    Selamat ulang tahun Zayka & Lumi. Semoga berkah yaa!

  • Rp. 100.536
    Riri Ariandhini
  • Rp. 300.808
    Anonim
  • Rp. 25.838
    Anonim

    Semoga membawa manfaat segera....!

  • Rp. 100.844
    Anonim
  • Rp. 125.762
    mifta amelia sholikhah
  • Rp. 50.272
    Anonim
  • Rp. 15.000
    Anonim
SHOW MORE
Aksi Cepat Tanggap 13 Feb 2018

Update 5 - 100 Ton Bantuan Beras

100 Ton Bantuan Beras Diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Asmat

100 ton bantuan beras

ACTNews, ASMAT – Kecepatan distribusi, hal itu yang menjadi pertimbangan utama pemulihan Asmat pasca-Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak. Kolaborasi kemanusiaan diperlukan untuk mempercepat distribusi.

Apalagi ini bukan bicara satu – dua macam jumlah bantuan. Sabtu (10/2) dan Ahad (11/2) kemarin, dari Dermaga Pelabuhan Agats, dibongkar muat 100 ton bantuan beras, setara 4.000 karung. Sehari sebelumnya, Jumat (9/2) bantuan beras tiba setelah perjalanan dua hari dua malam dari Merauke. Seluruh bantuan beras dikapalkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang merupakan amanah dari masyarakat Indonesia.

Demi mempercepat urusan distribusi, Senin (12/2) pagi, proses serah terima bantuan beras digelar di dalam gudang dekat dengan Pelabuhan Agats.

Sejak pagi sekali, selepas apel hari Senin, Pemerintah Kabupaten diwakili oleh seluruh Kepala Dinas termasuk Kepala Dinas Sosial dan Wakil Bupati Asmat singgah sejenak di depan gudang. Jajaran dinas dipimpin Wakil Bupati Asmat melihat langsung seperti apa bantuan beras yang dikirimkan dari Merauke.

“Seluruh bantuan beras dari ACT dititipkan sementara di gudang Bulog Kabupaten Asmat. Kami sudah menyusun tim khusus untuk distribusikan seluruh bantuan, termasuk ribuan karung beras dari ACT ini,” ujar Amir Makhmud, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Asmat.

Prosesi serah terima berlangsung sederhana dan penuh kekeluargaan. Secara simbolis, Thomas E. Safanpo selaku Wakil Bupati menerima bantuan beras dari ACT yang diwakilkan oleh Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President ACT.

Serah terima beras juga dilakukan simbolis dari Ibnu Khajar, selaku Vice President ACT kepada Amir Makhmud, Kadinsos Kabupaten Asmat

“Kami melihat ada kehangatan yang dibawa oleh jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) Asmat. Mereka sangat membuka pintunya untuk lembaga kemanusiaan seperti ACT. Berkolaborasi di ranah kemanusiaan, untuk memulihkan Asmat di seluruh distrik-distriknya,” ungkap Syuhel.

Syuhel menambahkan, distribusi bantuan beras sudah diserahkan sepenuhnya kepada Pemda Asmat. “Pemda Asmat menyatakan siap melakukan distribusi sampai ke distrik-distrik paling membutuhkan. Dan bahkan secara khusus disampaikan, bantuan ini akan terdokumentasi dan tercatat dengan baik. Laporan akan dikirimkan oleh dinas-dinas terkait di Asmat,” ujarnya.

Wakil Bupati Thomas pun menyatakan kesiapan jajarannya untuk mendistribusikan bantuan beras. “Pihak yang berkontribusi langsung untuk Asmat inilah yang saya kira adalah teman-teman terbaik yang bisa membantu kami menghadapi tantangan-tantangan di Asmat,” kata Thomas.

Kondisi geografis Asmat memang menjadi tantangan yang pelik untuk menembus titik-titik rawan gizi buruk, wabah campak, hingga malaria. Sungai meliuk-liuk menembus hutan. Perjalanan antar distrik terkadang harus ditempuh dengan rentang waktu 3-8 jam.

“Kondisi Asmat ini rumit. Akses transportasi terbatas. Jarak antara satu distrik dengan distrik lain kondisinya sangat berjauhan. Itu butuh moda transportasi yang mumpuni, apalagi untuk membawa ribuan karung beras amanah masyarakat Indonesia ini,” kata Syuhel.

Tentang teknis distribusi seluruh bantuan, Amir memaparkan, sepekan ke depan seluruh dinas terkait bakal bergerak bersamaan. “Instruksi Bupati sudah jelas. Setiap distrik di fase pemulihan ini akan ada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menjangkau seluruh kampung. Total ada 224 kampung di 23 distrik di Asmat,” tutur Amir.

Untuk target distribusi beras, Amir mengatakan bakal tetap memprioritaskan keluarga dengan anak-anak terdampak gizi buruk dan campak.

“Kami pegang data-data keluarga mana saja yang terkena gizi buruk dan campak di seluruh kampung di Asmat. Kami juga akan bagikan beras-beras ini untuk keluarga miskin. Pekan depan Insya Allah kita gerakkan serentak,” pungkas Amir. []

Aksi Cepat Tanggap 5 Feb 2018

Update 4 - Kapal Kemanusiaan Berlayar ke Asmat

Angkat Sauh dari Merauke, Kapal Kemanusiaan Berlayar ke Asmat

Angkat Sauh dari Merauke, Kapal Kemanusiaan Berlayar ke Asmat

ACTNews, MERAUKE – Tidak seperti hari-hari kemarin, pagi itu Sabtu (3/2) cuaca datang dengan angin dan awan yang bersahabat. Tidak ada mendung gelap, bahkan tak nampak sama sekali tanda-tanda bakal turun hujan. “Semoga pagi ini cuaca memang baik-baik saja. Biasanya setiap hari selalu hujan di Merauke. Dari pagi sampai malam hujan tidak berhenti. Kalau sudah hujan, kapal takut berlayar,” tutur Agus, pengemudi mobil yang menjemput kami, Tim ACTNews, ketika baru saja tiba di Bandara Mopah, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Cuaca yang cerah menjadi kabar baik yang sudah dinanti, pasalnya Sabtu (3/2) dari Merauke – titik paling ujung timur di Indonesia – satu agenda kemanusiaan bangsa Indonesia sudah disiapkan. Pagi itu, Merauke menjadi titik tolak. Seratus ton beras rampung dikemasi, siap dilayarkan menuju Distrik Agats, Kabupaten Asmat.

Menyiapkan 100 ton beras memang bukan urusan yang mudah. Kesibukan untuk mengemasi beras bahkan sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. “Sabtu pagi, proses pengemasan rampung, masing-masing beras dalam ukuran 25 kilogram per-karung dimuat ke dalam sepuluh truk yang berbeda,” jelas Rifai dari Humanity Network Department, Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Sekira pukul 08.30 WIT, iring-iringan truk berjalan bersamaan dari gudang penampungan beras. Voojrider memimpin konvoi truk membelah jalur utama Kota Merauke. “Tak jauh memang, dari gudang pengepakan beras, sampai ke Pelabuhan Pintu Air Merauke, kurang lebih 30 menit perjalanan,” tambah Rifai.

Kapal Kemanusiaan Papua: Selamatkan Papua dari Gizi Buruk, begitu judul besar yang terpacak di tiap mobil truk muatan penuh itu. Tak sedikit pula warga di sepanjang Jalan Raya Mandala – jalan utama Merauke – yang menoleh menyaksikan iring-iringan. Apalagi, nyaring suara voojrider memecah sunyi hari Sabtu yang libur di Merauke.

Konvoi truk meneruskan perjalanan hingga ke dermaga, di muka dermaga sudah merapat satu kapal, satu keramaian, dan puluhan kawan-kawan Papua yang siap membantu mengangkut beras dari truk hingga kapal. Sabtu pagi itu, cuaca cerah membuat semangat membubung. Keramaian baru saja dimulai di Dermaga Pelabuhan Pintu Air.

Kapal Kemanusiaan Papua berlayar dari Merauke

Merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk di Asmat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjadi inisiator. Kapal Kemanusiaan Papua jadi langkah konkret, memastikan amanah bangsa Indonesia bisa benar-benar tersampaikan hingga ke Kabupaten Asmat.

“Hari ini di Pelabuhan Pintu Air adalah momentum, 100 ton logistik beras siap dikirimkan untuk Kabupaten Asmat yang terdampak gizi buruk. Ini momentum kebersamaan. Sesama anak bangsa menolong dan membantu, sehingga kejadian gizi buruk semacam ini tidak perlu terjadi lagi,” ucap Ahyudin, dalam sambutannya sesaat sebelum melepas Kapal Kemanusiaan Papua.

Ahyudin menambahkan, sebesar apapun bantuan yang kita berikan untuk Asmat hanya sekadar meringankan beban. “Penderitaan yang mereka alami jauh lebih luar biasa. Negeri kita hebat makmur, Papua juga makmur. Tidak boleh lagi terdengar kejadian seperti ini. Kalau terjadi lagi, saya rasa Tuhan akan murka terhadap kita.”

Di depan sejumlah pejabat lokal Merauke, seremoni pelepasan Kapal Kemanusiaan Papua berlangsung sederhana, tetapi tetap semarak. Hadir dalam seremoni, Yudi Wijaya selaku Kepala Perum Bulog Sub Divisi Merauke dan Pembina PT Jasa Prima Logistik Bulog.

Datang pula dalam seremoni pelepasan kapal, Silas Warfandu selaku Manajer Operasi Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Cabang Merauke, AKP Horas Nababan selaku Kapolsek Pelabuhan Merauke, dan Kusmanto dari DPRD Kab. Merauke.

“Ini keguyuban. Ini gotong royong bangsa. Pemerintah, ACT, warga Merauke dan seluruh Bangsa Indonesia. Kita selamatkan saudara kita di Asmat dengan apapun yang bisa kita berikan,” ujar Ahyudin di depan beberapa pejabat lokal Merauke

Bersamaan dengan seremoni pelepasan kapal, proses bongkar muat dikebut sebelum siang menjelang. Satu per satu truk merapat ke muka dermaga Pintu Air, puluhan kawan-kawan relawan asli anak Merauke - Papua bersiap menurunkan karung-karung beras. Karung ditumpuk, tergopoh-gopoh tapi tetap tangguh. Karung-karung beras diboyong langsung ke dalam kapal.

Bagi kawan-kawan relawan Papua yang ikut membantu menurunkan beras, satu atau dua karung ukuran masing-masing 25 kilogram nampaknya memang terlalu enteng. “Tubuh kekar dengan otot yang menyembul itu tak main-main, 100 kilogram sekali angkut mereka sanggup. Bahkan lebih, ada yang bisa angkat lima karung sekaligus, Masya Allah,” celetuk Rifai.

Selagi menyimak proses bongkar muat beras ke atas kapal, Ahyudin menuturkan jumlah 100 ton beras yang dikirimkan Sabtu (3/2) adalah langkah masif tahap awal yang dilakukan untuk respons cepat gizi buruk di Asmat.

“Bantuan amanah dari masyarakat Indonesia tidak hanya berupa beras. Tapi juga ada bantuan air mineral, panganan padat gizi, susu, vitamin dan obat-obatan. Esok Ahad (3/3) tim dokter, perawat dan ahli gizi juga akan diterbangkan langsung dari Jakarta sampai ke Asmat,” pungkas Ahyudin. []

Aksi Cepat Tanggap 3 Feb 2018

Update 3 - Sudah 71 Anak Meninggal Akibat Gizi Buruk

Sudah 71 Anak Meninggal Akibat Gizi Buruk di Asmat

Sudah 71 Anak Meninggal Akibat Gizi Buruk di Asmat

ACTNews, ASMAT – Malam berganti di Agats, tapi pilu yang dirasakan tetap sama. Perbincangan dan kekhawatiran semua pihak memang sedang berpusat di Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Kekhawatiran bahkan terus memuncak, sebab krisis kesehatan berupa gizi buruk dan campak di Agats dan sekitarnya belum juga berakhir.

Sampai memasuki pekan pertama Februari 2018, krisis kesehatan di Asmat masih ditetapkan menjadi kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak. Data terkini yang diunggah oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga kini sedikitnya ada 71 orang meninggal dunia karena diagnosis gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat.

Semua pihak, baik dari pemerintah, relawan dokter, termasuk juga dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), berupaya maksimal untuk menuntaskan secara bertahap tragedi gizi buruk di Asmat. Nurjannatunaim, salah satu anggota dari tim dokter dan paramedis Emergency Response ACT mengatakan, anak-anak terdiagnosis gizi buruk dan campak masih bisa ditemui di beberapa fasilitas kesehatan di ibu kota Kabupaten.

“Di ranjang-ranjang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Asmat, masih bisa dijumpai pasien anak-anak yang terdiagnosis campak dan gizi buruk,” kata Nur, Rabu (31/1).

Tak hanya di RSUD Agats, Nur dan tim Emergency Response ACT pun menemukan masih ada anak-anak diduga terkena campak yang dirawat di puskesmas-puskesmas kecil di kampung-kampung di sekitar Distrik Agats.

“Sulitnya akses transportasi melintasi rawa, sungai, dan hutan menyebabkan anak-anak di kampung pedalaman Asmat hanya bisa dirawat di puskesmas di kampung mereka. Salah satu yang kami temui ada di Puskesmas Yaosakor, Distrik Siret, dua sampai tiga jam menggunakan perahu dari Agats,” ujar Nur.

Data lain Kementerian Kesehatan menunjukkan, dari 71 orang anak yang meninggal dunia, 66 anak di antaranya meninggal karena wabah campak, dan lima orang anak lainnya meninggal karena gizi buruk akut.

“Kami menghimpun data dari Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat, distrik yang paling banyak terdampak korban jiwa adalah Distrik Pulau Tiga yang berada di sebelah utara Agats, jauh ke pedalaman. Di Distrik Pulau Tiga, korban jiwa anak-anak akibat KLB campak dan gizi buruk ini mencapai 37 anak,” tutur Nur.

Rabu, (31/1) kemarin, Kementerian Sosial juga merilis data, KLB gizi buruk di Asmat pada Januari 2018 ini adalah kejadian terulang keenam kalinya. Pilunya lagi, KLB gizi buruk kali ini adalah puncak dari rentetan gizi buruk paling parah.

Nur memaparkan, hingga hari terakhir di Januari 2018 kemarin, hampir semua anak-anak gizi buruk di Asmat sudah ditelusuri oleh Pemda dan TNI dari kabupaten untuk diberikan pertolongan pertama di RSUD Agats.

“Tapi kami masih menemukan kekhawatiran baru karena masih banyak anak selain gizi buruk yang membutuhkan perhatian. Semisal anak-anak dengan kondisi gizi kurang, anak-anak risiko terkena campak, dan anak-anak gizi buruk pascapemulihan,” ungkap Nur.

Bukan urusan sehari atau dua hari untuk menuntaskan kasus gizi buruk di Asmat. Penanganan dan pencegahan terhadap gizi buruk yang terulang kembali perlu tindakan bertahap.

Menyelesaikan pekerjaan rumah ini, berbarengan dengan upaya pemerintah daerah menyelesaikan kasus gizi buruk di Asmat, ACT bergegas mengirimkan upaya darurat. Dari Merauke, Insya Allah pekan pertama Februari ACT bakal melayarkan Kapal Kemanusiaan Papua mengangkut 100 ton bantuan pangan dan obat-obatan.

“Tidak hanya membawa bantuan pangan dan medis seberat 100 ton. Seratus relawan, termasuk dokter, tenaga paramedis dan ahli gizi, juga akan ikut dalam perjalanan KK menuju Papua dengan kapal terpisah,” pungkas Insan Nurrohman selaku Vice President ACT. []

Aksi Cepat Tanggap 29 Jan 2018

Update 2 - Dokter ACT Singgah di Ambisu

Dokter ACT Singgah di Ambisu, Kampung Seribu Papan Kabupaten Asmat

Dokter ACT Singgah di Ambisu, Kampung Seribu Papan Kabupaten Asmat


ACTNews, DISTRIK ATSI, Asmat – Perjalanan panjang dari Jakarta akhirnya tuntas. Subuh itu, kapal perintis merapat di pelabuhan kecil di Agats. Setelah berhari-hari perjalanan, hari pertama menelusuri langit Jakarta sampai Papua dengan pesawat terbang. Lalu menunggu jadwal kapal, kemudian berlayar di atas lautan Arafura dari Merauke sampai ke Agats, tim ACT ke-2 pun tiba di Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat.

Kali ini, personel tim Emergency Response ACT yang turun langsung sampai ke Asmat merupakan seorang dokter. Tim kedua ini menyusul tim pertama yang telah tiba lebih dulu di Agats beberapa hari sebelumnya.

Mengatasi Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat, ACT bergerak menyelesaikan beberapa aksi bersamaan. Mulai dari distribusi darurat bantuan pangan padat gizi untuk anak-anak Agats, kemudian penyuluhan tentang gizi oleh paramedis ACT, lalu beranjak ke tahap berikutnya dengan menyiapkan pelayanan medis oleh dokter ACT yang diberangkatkan dari Jakarta.

Aksi pertama pelayanan medis ACT di Kabupaten Asmat dilakukan pada Kamis (25/1) kemarin. Seperti hari-hari sebelumnya, perjalanan antar kampung dan distrik hanya bisa dilakukan dengan perahu bermesin (speedboat). Sungai dan rawa-rawa membelah berlapis-lapis wilayah daratan Distrik Agats juga distrik-distrik yang berbatasan di kanan-kirinya.

Hanya bilah-bilah papan yang menjadi jalan utama di dalam kampung-kampung. Papan-papan itu disusun seperti jalan kecil, sementara di bawah hanya ada rawa dan sungai-sungai. Distrik di Atas Papan, begitu Distrik Agats mendapat julukan.

“Menurut warga lokal, rata-rata perjalanan menelusuri sungai butuh waktu dua sampai tiga jam. Kendaraan paling mewah dan satu-satunya yang berfungsi untuk berpindah tempat di Agats hanya kapal sampan kayu tradisional (kole-kole) dan speedboat,” tutur dr. Riedha, dokter ACT yang baru saja tiba dari Jakarta untuk bertugas di Kabupaten Asmat.

Penyuluhan kesehatan dan gizi dari tim medis ACT

Kamis pagi, sejak pagi sekali tim Emergency Response yang terdiri dari dokter dan paramedis bergerak lebih ke pedalaman. Menyewa speedboat dua sampai tiga jam perjalanan, tujuan hari itu menuju ke Kampung Ambisu, di Distrik Atsi.

“Kampung Ambisu terletak di pinggir laut, bukan di aliran sungai. Tapi tetap saja untuk mencapai Ambisu, hanya speedboat ini yang bisa menembus. Di Ambisu kami singgah di sebuah Puskesmas Pembantu Ambisu, menengok petugas medis puskesmas yang sedang bertugas,” kisah Nurjannatunaim, Paramedis dalam tim Emergency Response ACT.

Dua jam menyusuri aliran sungai dari Agats, dr. Riedha dan tim paramedis ACT tiba di Puskesmas Pembantu Ambisu. Pandangan pertama menilik ruang pasien membuat terhenyak.

“Kami menemukan ada anak-anak yang mengalami campak dan gizi buruk. Keningnya panas tinggi. Badannya pun tampak kering terlihat menonjol tulang rusuknya,” kata dr. Riedha.

Namanya Yohanes, salah satu bocah terkena campak di Kampung Ambisu. Menurut perawat di puskesmas, sudah berhari-hari gejala campak membuat tubuh Yohanes tidak berdaya. “Alhamdulillah, setelah kami melakukan pemeriksaan, badan Yohanes sudah tidak terlalu demam. Tinggal beristirahat yang cukup kami akan bantu pantau kebutuhan gizinya dan kami berikan vitamin. Jangan lupa badannya dioles minyak kelapa,” tutur dr. Riedha.

Seharian di Kampung Ambisu, dr. Riedha dan paramedis Nurjannatunaim menuntaskan tugas untuk memeriksa tubuh anak-anak Kampung Ambisu, juga melakukan penyuluhan gizi dan kesehatan.

“Dari kondisi yang kami lihat, kondisi gizi buruk di Asmat termasuk pula di Kampung Ambisu berada dalam tipe marasmik, artinya kondisi terparah karena kekurangan gizi yang sering ditemukan pada anak dan bayi. Ciri klinisnya mata cekung dan pipi cekung berkeriput, mulut kering, tulang iga seperti mengambang karena kulit tipis tidak ada lemak, dan tonjolan tilang di pinggang terlihat,” tutur dr. Riedha.

Duet dr. Riedha dan paramedis ACT Nurjannatunaim tuntas memeriksa kesehatan puluhan anak-anak di Kampung Ambisu. “Tak lupa juga anak-anak Ambisu kami berikan vitamin dan kami bekali paket makanan padat gizi,” kata Nur.

Hari itu, Kamis (25/1) tak kurang 50 paket makanan pada gizi diberikan untuk masyarakat Ambisu. Kepala Kampung Ambisu yang turut menemani mengucapkan terima kasihnya pada tim Emergency Response ACT yang singgah di kampungnya.

“Insya Allah, sampai pekan berikutnya dokter ACT dan tim paramedis akan menyisir kampung-kampung di sekitar Agats. Yang paling penting adalah mencegah gizi buruk terulang dan meluas. Gizi buruk bisa dicegah dengan pemenuhan kalori dan gizi seimbang melalui makanan. Jangan sampai terulang lagi ironi di mana ada kasus gizi buruk di tanah Papua nan kaya sumber daya alam ini,” pungkas Nur. []

Aksi Cepat Tanggap 24 Jan 2018

Update 1 - Paket Gizi Jangkau Distrik Siret dan Suator

Paket Gizi Lanjut Jangkau Distrik Siret dan Suator

Paket Gizi Lanjut Jangkau Distrik Siret dan Suator

ACTNews, ASMAT – Hanya ada perahu bermesin motor dan kapal sampan kayu tradisional (kole-kole) yang menjadi satu-satunya alat transportasi di Kabupaten Asmat. Untuk menembus satu kampung ke kampung lainnya, tak ada motor apalagi mobil. Sebab, jalan yang ada hanya hutan-hutan dengan jalur sungai yang membelah dan menghubungkan tiap kampung. Perjalanan memang sulit, tapi ikhtiar Aksi Cepat Tanggap untuk merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Asmat harus tetap berjalan.

Setelah Sabtu sore (20/1) kemarin tiba di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, tim Emergency Response ACT langsung menyiapkan bantuan paket gizi. Bantuan bahan makanan padat gizi disiapkan untuk menyuplai kebutuhan dapur umum yang sudah disiagakan sebelumnya oleh Pemerintah Daerah Distrik Agats.

Tak berhenti sampai di situ, Senin (22/1) aksi kembali dilanjutkan. Ada perjalanan panjang menggunakan perahu bermesin motor (speedboat) untuk menjangkau beberapa distrik tetangga Agats.

Meski bersebelahan dengan Agats, distrik lain yang terdampak KLB campak dan gizi buruk tetap sangat sulit dijangkau. Jalur transportasi keluar-masuk hutan dan menyusuri sungai-sungai menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjangkau kampung-kampung di distrik lain sekitar Agats.

Sejak pagi, perjalanan sudah dimulai. Nurjannatunaim, salah satu anggota Tim Emergency Response ACT di Asmat mengatakan, seharian penuh timnya menempuh dua kabupaten yang letaknya lebih pelosok dari Distrik Agats.

“Kami memulai perjalanan sejak pagi sekali. Rute kami pertama sampai ke Distrik Siret, lalu ke Distrik Suator paling jauh dari Agats. Perjalanan menggunakan speedboat paling cepat 2 sampai 3 jam,” tutur Nur di Agats, Senin (22/1) pagi.

Ikan yang ditukar dengan mi instan di Distrik Siret

Dari Agats, perjalanan menyusuri sungai butuh dua jam lebih sampai tiba di deretan rumah-rumah panggung di Distrik Siret. Kami, Tim Emergency Response ACT bertemu dengan Kepala Desa setempat. Kami mendapat kabar, anak-anak di Distrik Siret termasuk paling banyak terdampak KLB campak dan gizi buruk.

Ketua Tim (KATIM) Posko Kesehatan KLB Campak & Gizi Buruk Kabupaten Asmat, Septian Herpriyono, mengatakan, beberapa hari sebelum kedatangan Tim ACT, Pemda bersama TNI dari Agats sudah membawa sejumlah anak gizi buruk untuk ditangani di RSUD Agats.

“Akan tetapi, kemudian kami mendengar kabar lanjutan salah satu anak menderita campak dirawat di Puskesmas Yaosakor. Kami menilik ke puskesmas. Anak ini badannya tampak panas, satu keluarga menunggu si anak sepanjang hari. Tak lupa kami memberikan bantuan paket gizi untuk anak ini, semoga membantu pemulihan badannya,” ujar Nur.

Dari Yaosakor, mesin motor speedboat kembali meraung. Tim Emergency Response ACT kembali bergerak menuju ke Kampung Waganu, masih di Distrik Siret. Di Kampung Waganu, masalah gizi buruk pun merebak luar biasa beberapa pekan terakhir.

Nur menceritakan, pengetahuan akan makanan bergizi belum tuntas tersampaikan di Kampung Waganu, Distrik Siret. Kebiasaan konsumsi harian masyarakat lokal Waganu sepertinya terpengaruh dengan gaya hidup pendatang yang datang masuk ke kampung ini.

Misalnya saja, Tim ACT menemukan kenyataan bahwa di kampung ini kebiasaan masyarakat lokal malah mengonsumsi makanan instan.

“Bayangkan, di Waganu masih berlaku sistem barter. Ikan segar hasil tangkapan warga malah ditukar dengan mi instan. Kemudian definisi makan sayur menurut mereka adalah mi instan dicampur dengan sedikit sayur direbus dengan kuah. Hal ini juga yang menyebabkan kejadian gizi buruk di Asmat akhirnya merebak,” tutur Nur.

Menyapa warga Kampung Waganu, Nur dan timnya memulai penyuluhan tentang makanan bergizi dan kesehatan dasar. Tak lupa puluhan paket makanan bergizi juga dibagikan untuk anak-anak Waganu.

Usai dari Waganu, hari beranjak sore tapi perjalanan belum selesai. Mesin speedboat empat tak yang ditempel di belakang perahu itu kembali dinyalakan. Perjalanan berlanjut menuju Kampung Jinak di Distrik Suator, sebuah distrik lebih pelosok lagi dari Distrik Siret.

Tiba di Kampung Jinak selepas Asar Waktu Indonesia Bagian Timur, Tim Emergency Response kembali menemukan gambaran yang hampir serupa. Anak-anak berlarian dalam kondisi badannya yang tampak kurus.

“Tulang-tulang tangan dan kakinya kelihatan menonjol, perut bocah-bocah itu buncit. Kampung Jinak di Distrik Suator sepertinya lebih tertinggal dibanding beberapa kampung lain. Kami mendapatkan data, di lebih dari 80% anak-anak di Jinak mengalami kurang gizi, jumlahnya lebih dari 30 jiwa,” tutur Nur.

Sebelum berpamitan di Kampung Jinak, tim Emergency Response ACT membagikan puluhan paket makanan padat gizi. “Paket makanan kami berikan langsung kepada bocah-bocah atau ke mama-mama, sembari kami berikan sedikit penyuluhan lagi tentang konsumsi gizi yang tepat, Alhamdulillah, mama-mama di Jinak itu tersenyum bahagia, mereka berjanji bakal mengubah kebiasaan makan agar kejadian gizi buruk tidak terulang lagi,” pungkas Nur. []

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Di bawah ini adalah list fundraiser yang ikut mendukung Selamatkan Anak-Anak Suku Asmat Dari Gizi Buruk :

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?